Search This Blog

Loading...

Monday, May 16, 2016

Whats Next

Kadang, kita dihadapkan pada situasi sulit. Sangat sulit. Ketika harapan seketika musnah, pada dunia yang terlalu parau untuk mengatakan, pedulilah. Ketika, semua kata hanya baris kosong yang lelah, maka ada baiknya, biarkan tak pernah tertulis. Biarkan ia terbang membawa aksara yang gamang, hingga pasrah menemukan diri pada kisah orang lain. Maka, menyepi, menarik diri dari keramaian, mungkin dapat menghilangkan pesimisme. Biarkanlah warna bermunculan, agar tersingkap rahasia hati, hingga merah menganak sungai. Kemudian semua akan melihat, namun, saat semua mata dan kepala tertuju, menjadi sudah terlambat. Tidak ada jalan kembali, selain menyerah kalah. *Lily Kasim*

Sunday, January 17, 2016

Merdeka

Merdeka itu adalah bebas melangkah kemana pun
Meski mungkin harus menginjak atau terinjak kotoran kerbau

Well, emang sih, kita akan banyak mendengar orang berbicara lebih hina dari kotoran kerbau
Namun, bagi orang merdeka, itu seperti tidak pernah ada
Buta. Tuli. Bisu
Bikin greget kerbau yang sedang kebelet pup

Duh,
Kerbau itu bisa saja berparas menarik dan berpendidikan tinggi...
Tapi kalau sedang kebelet, kerbau atau bukan akan sama,
Keluarnya sama
Waste

Jadi, selamat pup ya kerbau...
Semoga sudah pandai pup dengan benar...
Hehehehe...

Thursday, December 17, 2015

Perjalanan Akhir

Perjalanan ini hampir akhir. Ada perasaan sentimentil saat mengerjakan tugas akhir saya. Waktu demi waktu yang seakan terlewatkan. Berkompromi dengan otak yang melambat dan tangan yang menua. Saya masih tetap bersemangat, dengan topik dan pembimbing yang saya sukai. Membuat perjalanan akhir saya terasa menyenangkan, meski dalam kondisi yang tidak ideal. Saya belajar untuk meletakkan prioritas dalam hidup saya. Membuat target-target langkah ke depan. Cita-cita saya. Sederhana, membangun perusahaan saya sendiri dan membangun peradaban di tempat saya lahir dan dibesarkan. 

Meski, apa yang telah saya kumpulkan selama hampir 15 tahun hancur di depan mata saya sendiri. Rasanya bangkrut dan merana itu seperti apa. Saya hafal detilnya. Namun, apa yang saya dapatkan dari kehancuran adalah ketegaran, kelapangan jiwa, kemerdekaan, dan orang-orang setia dan berhati lembut, yang menerima kekurangan dan memberikan dukungan serta kepercayaan mereka. Ketika, mereka melihat saya seperti manusia tak berguna dalam kehancuran saya, seperti dunia menelan saya tidak bersisa. Mereka ada. Menjadi alasan saya bangkit. Tak terbayang sebelumnya, dalam jiwa yang perih saya menyelesaikan ini semua. Jika luka saya tidak berbekas dalam perilaku saya. Itu karena mereka, dan berikutnya saya telah kebal, eh bebal. :D

Dalam perjalanan ini, saya menemukan keluarga baru. Pasien-pasien saya yang putus asa dengan penyakit mereka, sesungguhnya saya melihat bagaimana mereka ingin hidup. Dalam tatap sayu dan tubuh lemah mereka. Hidup mereka sangat tergantung dari pipa makanan atau tetes-tetes zat gizi mengalir dari selang infus. Harapan tersimpan di sana. Jiwa mereka dipertaruhkan di meja operasi di ruang-ruang khusus dalam keadaan tidak sadar. Apa yang mereka rasakan saat itu? 

Saya hanya berharap, Makanan yang saya resepkan, semoga jadi obat. Sakit yang dirasakan, semoga menjadi ibadah. Hidup yang diharapkan, semoga menjadi penyambung dunia abadi kita. Saya ingin menyudahi perjalanan ini dengan kesan yang tidak akan saya lupakan dalam kehidupan saya. Semoga...*Lily Kasim*