Search This Blog

Saturday, February 5, 2011

Berenang di Sungai Cikapundung

Isu lingkungan tampaknya menjadi prioritas kota Bandung saat ini. Sounds good! Salah satunya adalah program "Bersih-Bersih Cikapundung". Cikapundung adalah sungai yang membelah Bandung dalam arah utara-selatan. Merupakan sungai terbesar di Bandung yang bermuara di sungai Citarum serta berhulu dari curug Ciomas Lembang-Bandung. Program konservasi sungai Cikapundung ini cukup mendapat perhatian yang besar dari berbagai kalangan di Bandung, sekarang kita mendengar program "Swimming at Cikapundung".

Kegiatan restorasi dan konservasi sungai harus menjadi prioritas di semua daerah di Indonesia. Karena, kondisi sungai-sungai di Indonesia, terutama di pusat-pusat kota sangat memprihatinkan. Sampah dimana-mana, terjadi pendangkalan, rumah di sempandan sungai, WC-WC terbang maupun WC semipermanen menjadi corak lainnya yang bikin sepet mata memandang. Polusi. Tak terawat. Tak tersentuh. Terbiar. Kumuh. Speechless.

Jika kita menilik sejarah, lihatlah kebudayaan Mesir Kuno dengan sungai Nil-nya yang tersohor, kebudayaan Mesopotamia yang amat jaya dengan sungai Efrat dan Tigris, serta kebudayaan Cina dengan sungai Kuning (Huang Hwo) dan sungai Panjang (Yangtze). Semua ini adalah kebudayaan maju dalam sejarah dunia, dan semua cerita mengenai mereka selalu dikaitkan dengan sungai yang mereka punyai.

Lalu, jika kita berangsur sedikit ke abad yang lebih modern, kita lihat negara-negara Eropa yang memanfaatkan sungai sebagai bagian dari moda transportasi dan sekaligus pariwisata. Contohnya Venessia dengan Gondola-nya yang terkenal romantis, Paris dengan sungai Seine-nya. Tar ya, kita jalan-jalan pakai Google Earth dulu kalo ga punya uang tilik langsung tekape, atau intip-intip di rumahnya si paman Gugel. Hihihi...

Di Asia, kita lihat usaha dan keuletan warga Korea dalam merestorasi sungai Cheonggye-cheon. Sungai yang terletak di Seoul ini sebelumnya mereka covering untuk dipergunakan sebagai jalan layang - yang katanya jalan layang ini sebagai simbol kemajuan - namun malah menimbulkan masalah baru dalam sejarah negeri Ginseng ini. Jadi macet dan kumuh. Mereka akhirnya merestorasi sungai penting tersebut, membuang covering. Dan, mengembalikan fungsi sungai sebagai sumber kehidupan.

Serunya, pekerjaan behind the scene proses restorasi ini cukup heboh juga. Mereka bernegosiasi dalam jumlah yang banyak sekali. Melelahkan jiwa-raga. Namun, akhirnya mereka bisa mewujudkan restorasi demi kepentingan bangsa. Saat ini, sungai Cheonggye-cheon menjadi area pariwisata di daerah downtown kota Seoul. Jadi, jelaslah bahwa niat baik itu menghasilkan hasil yang baik juga. Bagaimana dengan kita Indonesia?**Lily Kasim**

No comments: