Search This Blog

Friday, March 4, 2011

Kotoran Burung Koak Jalan Ganesha Bandung dan Saya

Dulu, kira-kira 3 tahun lalu, Burung Koak merupakan penguasa Jalan Ganesha Bandung. Kini populasi Koak tampaknya sudah jarang ditemui. Jalan Ganesha sekarang sudah agak steril dari kotoran Koak. Dulu, ketika Koak sedang rajin bertengger di pohon suaka milik Institut Teknologi Bandung, dengan sendirinya burung Koak juga rajin buang hajat. Akibatnya, Jalan Ganesha penuh dengan kotoran Koak yang tampak memutih seperti salju. Dari jauh kelihatan indah, kita seakan di bawa ke belahan Eropa dengan pemandangan yang eksotis seperti di film-film dengan setting penuh salju. Tetapi, jika sudah memasuki jalan Ganesha, maka aroma kotoran Koak membuat pikiran kacau dan hati berkecamuk paranoid takut ketiban rejeki kotoran Koak yang baunya aduhai.

Suatu ketika, akhirnya saya ketiban juga rejeki Jalan Ganesha yang tersohor itu. Kotoran Koak jatuh tepat di atas kepala saya di suatu pagi. Buset dah. Waktu itu saya sedang buru-buru mengejar bis pagi menuju Jakarta untuk suatu keperluan. "Ceprettt..!" Koak dengan semena-mena memilih jilbab saya sebagai persinggahan akhir kotorannya. Sementara saya tak berdaya dengan keadaan yang sebegitu tiba-tiba. Tidak sempat balik ke kosan, saya hanya minta dibersihkan sama teman dengan Aqua yang sudah saya beli sebelumnya. Ya sudahlah, mau gimana lagi toh? Tidak ada pilihan selain menerima perlakuan sopan Koak pada diri saya ini. Namun, hati saya selanjutnya diliputi rasa was-was. Pertanda apakah ini? Saya takut kotoran ini membawa hal tidak baik. Wew...saya benar-benar menjadi paranoid! Hehehe...

Perjalanan ke Jakarta tetap saya lanjutkan, cemas melanda sepanjang perjalanan Bandung-Jakarta. Khawatir merasuki dada saya. Pikiran tak lepas dari kejadian Koak itu. Akhirnya, dengan banyak doa, saya sampai ke tujuan dengan selamat dan tidak ada satu pun hal yang terjadi yang perlu dikhawatirkan. Tetapi, sejam kemudian, saya mendapat telepon.

"Hallo, benarkah ini dengan Ibu Lily...bla..bla...." terdengar introduksi dari seberang sana.
"Iya, benar" jawab saya.
"Kami dari Batavia Airlines mau mengabarkan pada Ibu, bahwa nomor penerbangan Ibu dengan perjalanan Batam-Jakarta memenangkan undian promosi kami sebesar 10 juta rupiah. "
"Haaaaa?" tiba-tiba kuping saya budeg.

Sang CS kembali mengulang pemberitahuan dan saya kembali ngeyel, maklum banyak modus penipuan. Saya makin menggila ngeyelnya, sang CS kemudian menyerah pada saya dan memberikan nomer kantor pusat Batavia Airlines untuk mengkonfirmasi apa yang telah disampainya itu. Saya bengong dan kekeuh tidak mempercayai berita itu. What's next? Saya menghubungi teman saya untuk menyelidikinya dan meminta menelpon informasi tentang nomer yang telah diberikan tadi. Saya makin cemas dan jadi teringat lagi dengan hadiah burung Koak pas berangkat ke Jakarta pagi itu. Hah...! Pikir saya, "Ini dia jawaban kotoran burung Koak: saya dapat sial telepon tipu-tipu modus jadul ini!"

Setengah jam berlalu. Saya tidur-tiduran di kamar untuk istirahat karena lelah dengan kejadian-kejadian tidak sedap hari itu sambil memikirkan kejadian-kejadian yang memeningkan kepala saya. Sungguh sial saya hari itu! Tapi, tak lama kemudian teman saya telepon. Nah, ini dia yang ditunggu. Langsung saya angkat telepon tersebut.

"Gimana nomor telepon tadi?" tanya saya tidak sabar.
"Hallo Ai...gini..." kata temen saya diseberang sana
"Gini gimana?" tanya saya lagi
"Itu memang benar telepon dari Batavia Airlines...Tadi sudah cross check 108 dan sudah tak telepon balik nomor yang diberi." kata temen saya menjelaskan.
"Tipu kan?"
"Enggak, Ai emang dapat 10 juta, sudah konfirmasi berkali-kali koq...disuruh ambil uangnya di kantor seminggu lagi..."

Hooooo....Dan, yang terjadi berikutnya adalahhhhh....silahkan bayangin sendiri ya....yang jelas besok-besoknya pas lewat Jalan Ganesha Bandung, sering muncul perasaan kangen; "Hai Koak, kapan-kapan boleh dong dapat hadiah cepretannya lagi?" Hehehe...happy weekend and happy blogging buddy...whis you all the best...**Lily Kasim**

No comments: