Search This Blog

Sunday, February 23, 2014

Rekam Medis Elektronik: Implementasi Terkini di Indonesia

Empat atau lima tahun berselang sejak lulus dari S2 BME - STEI - ITB, saya merasa perkembangan eHealth seperti jalan di tempat. Sejak mengerjakan tesis mengenai sistem eHealth di puskesmas tentang TB dan membantu rekan di sana mengimplementasikan rekam medis elektronik di puskesmas, perkembangan eHealth biasa saja, tidak terdengar semakin keren. Di sisi lain, dunia kesehatan semakin terpuruk saja.

Rekam medis elektronik karya teman saya ini merupakan versi kedua, dan hingga hari ini tetap digunakan di puskesmas Babakan Sari, Bandung. Tentu saja, hal itu di jalankan dengan semangat baja. Saya bangga dengan keteguhan mereka, semoga semakin baik pelaksanaannya. Sementara, sistem saya masih membeku di dokumen saja. Ya, mungkin karena saya tidak meneruskan bidang ini. Saya interrupt utak-atik eHealth, meski di kepala saya berseliweran banyak ide. 

Saya pergi mempelajari nutrisi klinik di FKUI, dan saat ini sedang menjalani program dokter spesialis di bidang ini. Rekam medis yang ditulis dengan tulisan tangan yang jelek dan sulit terbaca menjadi kendala cukup berarti bagi kami klinisi bidang suportif, karena kami perlu memahami 'pekerjaan' dokter penanggung jawab pasien agar penanganan pasien terkoordinasi dengan baik. Komunikasi dalam memahami progres pasien salah satunya melalui rekam medis yang baik. Jadi, rekam meis elektronik merupakan kebutuhan. Pelayan kesehatan yang terintegrasi dengan baik akan meningkatkan kualitas layanan.

Jika kualitas layanan kesehatan dalam negeri baik, maka dapat meningkatkan trust. Ini kausalitas yang sangat klasik. Aliran eksodus pasien yang berobat ke negara tetangga sebenarnya dapat dikurangi. Bahwa, saat ini, fenomena berobat ke LN bukan hanya dilakukan oleh middle high, namun, sejak transportasi semakin mudah, medical tourism menjadi perhatian negara tetangga, maka eksodus triliunan rupiah menjadi tak terelakkan. Golongan bawah pun akan semakin mudah mengakses layanan kesehatan di negara tetangga. Wibawa bidang kesehatan pun semakin melorot, padahal kualitas dokter Indonesia tidak lah jelek jika di bandingkan dengan dokter negara tetangga.

Dan, kepala saya semakin banyak berseliweran ide, terutama di bidang yang saya geluti. Semoga saja, jika sudah tepat waktunya akan saya eksekusi. Namun, harapan saya besar, suatu hari nanti, pemimpin negeri ini beserta staf ahli yang mengelilinginya mengerti arti penting pembangunan teknologi informasi. Tidak ada lagi penjabat setingkat menteri yang masih bertanya pentingnya Internet cepat dalam tuitnya beberapa waktu lalu. 


Sungguh, saya prihatin, pemerintah harusnya punya visi dan misi yang benar- benar diinsyafi di bidang teknologi informasi. Tidak saatnya lagi mempertanyakan Internet cepat untuk apa...
Salam sehat, *Lily Kasim*

No comments: