Search This Blog

Wednesday, April 9, 2014

Ketika Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu

Bekal dasar yang Tuhan berikan pada seorang manusia yang sedang dalam kondisi stres adalah bertahan. Metafora sederhana kondisi ini adalah ibarat kita sedang digonggong anjing. 

Ketika anjing menggonggong, apa reaksi tubuh kita? Iya, bertahan. Caranya? Tubuh akan menyiapkan kondisi untuk bertahan dan berlari dari kondisi itu (fight and flight). Ini adalah ilmu faal dasar, sekaligus ilmu filsafat lanjut. Hehehe...

Seni bertahan ini langsung diperintahkan oleh saraf pusat (kantor pusatnya di hipothalamus di otak). Kantor pusat ini pasti akan tahu segala kondisi tubuh, karena antek-antek sinyal terpasang di mana-mana. Jika ada rangsang bertahan, maka kantor pusat akan memberi perintah ke kantor cabang untuk membereskan masalah yang timbul (kantor cabang berlokasi di kelenjar anak ginjal atau nama kerennya glandula korteks adrenal atau hati dan organ-organ lain. 

Kantor cabang akan mengeluarkan bala bantuan berupa senjata kimia (neurohormon), berupa hormon stres, yaitu katekolamin (adrenalin dan noradrenalin, nama lainnya epinefrin atau norepinefrin), kortisol, dan glukagon. Hormon-hormon ini termasuk dalam kelompok glukokortikoid.

Dengan keluarnya hormon tersebut, maka kita siap untuk fight and flight, bertahan. Detak jantung naik. Tekanan darah naik. Rasakanlah adrenalin kita terpacu. Hemoglobin dan protein tubuh naik (bertugas mengangkut oksigen dan bahan sumber energi). Cadangan gula (glikogen) untuk pembentukan energi tubuh dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di hati. Lemak dibakar agar apabila cadangan gula sudah habis, energi buat lari tetap tersedia. Efek dari pembakaran lemak adalah terbentuk panas tubuh, dan kita berkeringat. Segala upaya tubuh ini dikerahkan agar kita kuat untuk berlari dan bertahan. We are on fire! 

Lalu, otot polos saluran cerna akan mengalami relaksasi (istirahat). Efeknya? Jika ususnya sedang nyantai, hasrat makan pun akan mengikuti kondisi ini. Ibaratnya, kalau boss kita mau nyantai, kita ga berani mengganggu kan? Nafsu makan kita pasti berkurang karena nafsu makan itu anak buah saluran cerna. 

Periksa kondisi tubuh kita jika kita dalam kondisi terdesak, stres. Yang paling mudah diingat adalah kita ketakutan, jantung berdebar kencang serasa mau copot, berkeringat, kepingin buang air kecil dan besar (bahkan ada yang sampai terkencing-kencing dan terberak-berak) dan sering tidak enak makan. Proses agak detilnya seperti yang sudah saya ceritakan di atas. Lebih detil dari ini ada di buku teks.

Kondisi ini berlaku untuk setiap stres yang terjadi pada tubuh kita, misalnya stres akibat luka bakar, trauma, operasi, dan sakit kritis. Jadi, itulah yang terjadi pada tubuh pasien-pasien di ruang operasi, di unit luka bakar, di instalasi gawat darurat, dan di ruang perawatan intensif di tahap awal adaptasi terhadap kondisi kritis dan penuh stres. Namun, kita telah disiapkan untuk bertahan (adaptasi dan kondisi membaik), dipersilakan berusaha untuk tetap selamat, ikhtiar dengan ilmu yang tepat, sampai Tuhan berkehendak lain. 

Tuhan memang sedikit iseng. Baiknya, Dia menciptakan stres, namun kita sudah di-embbed dengan sistem bertahan. Sempurna.

Dari pepatah itu, apabila diteruskan, kita kenal: anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Sederhana kebijaksanaan orang-orang tua kita dahulu, kita jadi tahu bahwa itu maknanya dalam, sedalam ilmu faal dan filsafat hidup ini. Anjing menggonggong, tidak boleh dilawan, jika dilawan makin keras gonggongannya dan semakin menyerang kita. Oleh sebab itu, kafilah harus tenang, mencari ilmunya untuk tetap berjalan agar selamat. Salam sehat. *Lily Kasim*

No comments: