Search This Blog

Saturday, April 12, 2014

Save Our Children: Tidak Membawa Mereka Saat Membesuk Pasien di Rumah Sakit

Ketika di rumah sakit atau puskesmas rawat inap, tidak jarang kita melihat orang tua membawa serta anak-anak mereka untuk membesuk kerabat mereka yang sakit. Bahkan, bayi pun sering terlihat bersama kelompok warga membesuk dan menunggui kerabat mereka yang sedang dirawat di rumah sakit. 

Rumah sakit sendiri telah memberikan edukasi melalui himbauan yang dipasang di berbagai penjuru rumah sakit agar tidak membawa anak kurang dari 12 tahun untuk besuk. Pihak rumah sakit juga melalui sekuriti yang jumlahnya sangat sedikit dibandingkan kelompok warga telah diturunkan untuk mengamankan warga yang kurang tertib. Sekuriti kadang kewalahan memberikan pengertian kepada warga yang kadang galak ke petugas mengenai hal ini. 

Warga, tetap tidak mengindahkan himbauan, dan tetap saja membawa anak-anak bahkan bayi mereka 'tamasya' ke rumah sakit. Bisa dipahami bahwa sisi baik kita hidup di lingkungan yang gotong royong ini adalah peduli. Besuk adalah bentuk kepedulian dan dapat jadi obat bagi si sakit. Si sakit kadang kangen dengan kerabatnya dan ingin melihat kerabat menjenguknya, meskipun itu masih balita. Inilah budaya kita. Di sisi lain, dari ilmu kejiwaan kita tahu bahwa hati yang bahagia membantu kesembuhan. Besuk membuat hati bahagia.

Besuk itu sebagian obat, namun, warga perlu diberikan edukasi mengenai bahaya membawa anak mereka besuk ke rumah sakit. Terutama anak yang berusia kurang dari 14 tahun, karena sistem kekebalan anak-anak masih lemah, sehingga mudah tertular penyakit. 

Kita harus punya cita-cita ke depan, bahwa bangsa ini harus dijalankan oleh orang-orang yang sehat. Anak-anak generasi penerus harus dijaga sebaik-baiknya agar siap membawa negeri ini ke arah kemakmuran. Anak-anak yang mudah sakit dipastikan akan lemah dan kita akan semakin jauh dari cita-cita kemakmuran.

Warga sering tidak mengerti bahwa mereka sedang 'membiarkan' anak mereka terpapar dengan berbagai macam penyakit yang ada di rumah sakit. Jadi, mereka harus disadarkan melalui sebuah gerakan kepedulian.

Berikan mereka pengetahuan, pengertian, semengerti-mengertinya bahwa himbauan itu sesungguhnya buat kebaikan bersama, sedapat mungkin informasi tersebut sampai ke relung hati mereka, dan akhirnya diharapkan mereka sadar sesadar-sadarnya. 

Kita tahu, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kadang tak kalah jumlahnya berseliweran di rumah sakit. Namun, sayangnya mereka lebih banyak waspada mengenai adanya sengketa warga-rumah sakit, yang permasalahannya sering klasik, yaitu ketidaktahuan warga akan prosedur yang benar mengenai administrasi rumah sakit. Iya, masalah biaya pengobatan itu sangat penting dan sensitif. Namun, pencegahan penyakit pada anak juga penting. Jadi, alangkah baiknya jika LSM juga bergerak dalam edukasi untuk membantu anak-anak di negeri ini agar lebih sehat. 

Pihak pendidikan dan pelatihan, baik dari rumah sakit sendiri, atau institusi pendidikan, juga dapat menggagas edukasi mengenai hal ini. Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Keperawatan, Kebidanan, atau Fakultas Kesehatan Masyarakat dapat ditugaskan untuk membuat edukasi dan memberikan penyuluhan mengenai hal ini. Ini tugas yang mudah kan, teman-teman? Hehehe...Salam sehat. *Lily Kasim*

1 comment:

Serbifo said...

Yang jelas kalao bezuk orang sakit di RS bawa anak takut tertular.. maklum RS tempatnya segala macam penyakit hehe...