Search This Blog

Tuesday, July 29, 2014

Selamat Ulang Tahun, Mbak Onah

Hari itu, tepat 10 Juli. Matahari datang dengan jadwal seperti biasanya. Saya segera berkemas untuk melaksanakan tugas saya magang di Bangsal Digestif. Hari itu, istimewa. Salah seorang pasien saya berulang tahun. Pasien saya ini seorang perempuan. Usianya kira-kira sama dengan saya. Menemaninya menjalani hari-hari di ruang perawatan khusus ini membuat saya sedikit akrab dengannya dan keluarga. Selama dirawat, pasien hanya ditemani oleh sang kakak. Mereka hanya berdua bersaudara. Rumahnya jauh di salah satu kota Jawa Barat perbatasan Jawa Tengah. Sedang, ini adalah rumah sakit rujukan Nasional. Jakarta. Suaminya seorang karyawan di bengkel, sehingga tidak dapat selalu ada menemani. Hanya, di balik bantal dan laci tempat tidurnya selalu tersedia foto anak-anaknya. Jadi, selama dirawat, perempuan ini ditemani oleh kakak perempuannya dan foto-foto anaknya.

Dari wajah kakaknya, tampak gurat lelah campur putus asa. Namun, sang kakak senantiasa duduk di samping adiknya, membacakan ayat quran dan menuntun tangan adiknya menyelaraskan asma Allah dengan biji tasbih. Satu hari, pasien saya ini, berkata, 'Dokter, saya capek. Kenapa harus saya?' Saya mendapat pertanyaan sangat sulit. Saya tidak tahu harus berkata apa. Sebab, saya menyaksikan sendiri, kanker di tubuhnya sangat ganas. Menurut literatur, kanker yang bersarang di tubuh pasien saya ini adalah jenis langka. Rembesan dasar tumor membuat lubang di tubuhnya. Semakin hari semakin besar, dengan mual, muntah, dan pendarahan hebat. Ada kala pasien mampu makan makanan yang diresepkan, namun tak jarang, mual begitu hebat dan pendarahan begitu masif yang memerlukan stabilisasi kondisi umum. Ketika mampu habis, pasien bangga bercerita bahwa dia mampu menghabiskan makanan, dan saya pun memujinya. Apabila pasien tidak mampu, pasien dengan jujur mengatakan, maaf dokter, saya kemarin tidak makan. Saya memotivasi sebisa saya dan memberinya jalur makan tambahan melalui infus.

Diskusi telah banyak kami lakukan untuk mengupayakan dukungan nutrisi secara adekuat untuk pasien ini. Namun, progresivitas penyakit ini memang luar biasa. Pada hari ulang tahunnya, keadaan pasien mulai menurun. Setelah melakukan pemeriksaan, memberikan dukungan nutrisi, saya menghampirinya. Sambil menyelipkan sedikit hadiah, saya ucapkan, 'Selamat ulang tahun, mbak, semoga Allah selalu sayang.' Pasien saya hanya mengucapkan terima kasih sambil terpejam. Iya, memang pada malam harinya pasien mengalami pendarahan hebat. Kondisi hari ini tidak begitu baik. Sang kakak, saksi perjuangan adiknya melawan kanker hanya dapat menangis. Bulir-bulir air matanya mengalir. Saya hanya diam setelah itu. Saya tidak tahan berada pada situasi itu, segera pamit untuk pergi melihat pasien saya yang lain.

Di lain waktu, ketika pasien saya ini kembali mengeluh, saya memberanikan diri berkata padanya, 'Allah telah memilih mbak untuk menjadi kekasihNya dengan kesabaran mbak yang berlimpah ini.' Kata-kata ini cukup mampu menenangkannya, yang mungkin jika itu saya, saya pun akan banyak mengeluh, lebih dari keluhannya. Dan, di dalam hati saya yang kotor ini, ijinkan saya bergumam, sangat lirih, 'Bertahan mbak, bertahanlah dalam imam yang kokoh. Jika akhirnya raga ini kalah, jiwa kita akan senantiasa menang.'**LilyKasim**

1 comment:

Serbifo said...

Wah terharu juga baca artikel sobat.. semoga yang sakit cepeet sembuh.