Search This Blog

Wednesday, January 21, 2015

Diam

Ada yang mengatakan diam itu emas. Sebagian lain mengatakan diam itu marah. Diam, dalam emas maupun marah, punya nilainya sendiri. Pilihan kita adalah refleksi kematangan kita.

Diam dalam konteks marah, lebih baik dibandingkan diam dalam menyaksikan ketidakbenaran. Karena, pada akhirnya kita, adalah tentang jejak hidup ini. Tinta yang ditorehkan oleh tapak kaki, tangan, lisan, mata, telinga kita sudah terekam dengan sangat rinci dalam memori supertera milik sang Maha Kuasa. 

Hidup tidak pernah salah dengan warnanya. Hitam, putih, atau abu. Kita ada di dalamnya. Kita mewarnai dengan sikap kita, keputusan kita. Maka, dalam konteks agama yang saya anut, sebaik-baik keputusan adalah keputusan yang kita ambil setelah berwudhu. 

Menurut saya, apa yang diberikan hidup ini pada kita, adalah sebuah proses, baik-buruk, adalah 2 sisi yang sama-sama natural, sama-sama baik. Semua tentu saja berasal dariNya agar kita memiliki sesuatu untuk diproses. Yang pada akhirnya semuanya akan menuju sebuah tempat yang abadi. Kelak, semuanya akan kembali, dan kita bertanggung jawab. Saat, mulut kita hanya dapat diam...*LilyKasim*

No comments: