Search This Blog

Saturday, October 15, 2016

Terima Kasih Tuhan

Ketika itu, saya seorang muda yang sangat miskin. Ayah saya mengantarkan saya ke Jogja dengan bekal uang pas-pasan. Sedari kecil jarang sekali memiliki jajan, dan tidak punya televisi, sehingga menjadi orang yang tidak pandai berbusana dan mengelola uang. Saya lebih mirip anak lelaki, dibandingkan anak perempuan. Ayah, entah mengapa begitu berani melepaskan saya di tanah Jawa. Kami, sama-sama buta tentang apa dan bagaimana cara mendapatkan pendidikan yang baik untuk saya. Ayah melepas saya begitu saja, dalam keadaan bingung, dan semuanya berjalan begitu sulitnya. Saya kehabisan uang, tidak memperoleh tempat sekolah, dan siapa yang dapat membantu? 

Waktu itu, saya menuliskan impian saya dalam setiap buku yang saya pelajari. Hanya itu yang saya bisa lakukan. Setelah ditipu lembaga bimbingan komputer, saya memutuskan untuk ikut bimbingan belajar untuk mengulang UMPTN saya yang telah gagal saya masuki. Di sana, saya menemukan orang-orang, yang seperti apapun telah membantu saya menemukan siapa diri saya. Saya mempelajari, bahwa orang-orang yang tulus pasti ada. Meskipun, terkadang, kita tidak pernah menyangka apa yang dipikirkan orang lain tentang kita. Saya terus berjalan, menyusuri siang dan malam, untuk mengubah nasib saya. Hingga, akhirnya Allah perkenankan harapan ayah saya. Pada akhirnya, saya menjadi dokter. 

Banyak transformasi yang terjadi, saya adalah generasi transisi, yang harus cepat beradaptasi, dari sesuatu yang lambat dan tertutup, menjadi cepat dan terbuka di era internet ini. Dan, sekali lagi, ayah saya begitu banyak memengaruhi jalan hidup saya, meski, sebenarnya, pada semester 3 saya di fakultas kedokteran, ayah meninggalkan saya selama-lamanya. Saya, terus berjalan, dalam sepinya perjuangan, terus berlari, tidak pernah berhenti hingga hari ini. Kini, saya telah menyelesaikan 3 gelar akademis tambahan; 2 master dan 1 gelar spesialis. Saya masih harus menambah setidaknya 3 gelar lagi, yaitu Ny., (K), dan PhD. Itu impian saya. 

Saya berpikir, dan berharap saya dapat meraih PhD di negara berbahasa Inggris. Semoga Allah berkenan, memberikan gelar-gelar itu pada saya. Saya selalu bermimpi, seiring waktu, Allah membukakan pintu-pintu rejeki bagi saya, agar saya dapat berbuat banyak untuk emak saya, keluarga lainnya, dan orang yang membutuhkan saya.

Untuk semua yang telah diberikan pada saya, secara khusus, saya tidak lagi menuliskan pada buku bacaan saya seperti masa 20 tahun silam. Namun, refleksi ini saya tuliskan di blog, dan bersedia disinggahi oleh orang lain, atau kolega atau calon boss saya, untuk sekedar mengetahui sedikit tentang saya. Seperti apapun, apa yang saya tulis adalah sebagian kecil dari apa yang ingin saya raih. Saya, selalu bermohon, semoga Tuhan berkenan menitipkan dunia ini pada saya, dan semoga saat itu, hati saya tidak ikut menggenggamnya. Amin.

Saya sadar, bahwa jatuh bangun saya, semua telah diijinkanNya, dan saya berjuang agar saya ridho dan, saya mengingat, secara khusus saya belum pernah mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah begitu baik dan ajaib membawa saya, dari seseorang yang sangat susah, menjadi orang yang cukup. Hari ini, ijinkan saya mengucapkan terima kasih atas semuanya. Terima kasih, Allah. Lily Kasim

No comments: